Kewarganegaraan, Kebangsaan, dan Etnisitas

Kewarganegaraan, Kebangsaan, dan Etnisitas

Mendamaikan Persaingan Identitas

Penulis                  : T.K. Oommen

Penerjemah           : Munabari Fahlesa

Penerbit                : Kreasi Wacana

Cetakan Pertama  : 2009

ISBN                   : 978-602-8001-36-6

Buku terjemahan dengan judul asli Citizenship, Nationality, And Ethnicity Reconciling Competing Identities, adalah buku berusaha meluruskan konsepsi yang terjadi tentang warga negara, bangsa, dan etnis. Diawali dengan sebuah landasan konseptual dari warga negara, bangsa dan etnis, juga memberikan sebuah penjelasan dan argumentasi serta komponen-komponen yang ada dalam sebuah realitas sosial hari ini. Lalu mengkaji keterkaitan diantara komponen yang ada, dan membangun sebuah konsepsi ulang tentang warga negara, bangsa dan etnis.

Baca Lanjutannya…

AIR MATA RETAK

Air Mata Retak

Penulis                     : Marhaeni Eva

Penerbit                  : PT GRASINDO

Tahun Terbit

Cetakan I                : 2009

ISBN                         : 9789790259409

Jumlah Halaman : 200 Halaman

“Seni itu soal penghayatan keindahan dan kepekaan, di tambah ketajaman intuisi.” (Hlm 13)

Itulah salah satu penggalan kalimat yang membuat ‘jreng’ buku ini diawal cerita. Akan sangat biasa ketika kita membacanya, namun jika kita mencoba memahami secara kontekstual, serta membaca alur cerita yang mengalir setelah itu, kita akan paham, bahwa hidup adalah seni. Seperti bentuk apresiasi seni, hidup membutuhkan penghayatan dan kepekaan. Bak seorang penari yang menari dalam alunan musik atau seorang pelukis yang menumpahkan imaji serta emosinya dalam tumpahan warna di atas kanvas.

Baca Lanjutannya…

MULTIPLE CROPPING

MULTIPLE CROPPING

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Multiple cropping atau sistem tanam ganda merupakan usaha petanian untuk mendapatkan hasil panen lebih dari satu kali dari jenis atau beberapa jenis pada sebidang tanah yang sama dalam satu tahun. Ada beberapa jenis multiple cropping, seperti mixed cropping, relay planting, intercropping dan lain-lain. Intercropping (tumpangsari) merupakan salah satu jenis multiple cropping yang paling umum dan sering dilakukan oleh petani di Indonesia. Biasanya pada system tumpangsari, hasil dari masing-masing jenis tanaman akan berkurang apabila dibandingkan dengan system monokultur, tetapi hasil secara keseluruhan lebih tinggi.
Multiple cropping merupakan system budidaya tanaman yang dapat meningkatkan produksi lahan. Peningkatan ini dapat diukur dengan besaran yaitu NKL (Nisbah Kesetaraan Lahan) atau LER (Land Equivalent Ratio). Sebagai contoh nilai NKL atau LER = 1,8; artinya bahwa untuk mendapatkan hasil atau produksi yang sama dengan 1 hektar diperlukan 1,8 hektar pertanaman secara monokultur.

Baca Lanjutannya…

HIDROPONIK

HIDROPONIK

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanaman untuk tumbuh dan berkembang membutuhkan media tanam. Media tanam berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman, penopang tegaknya, sumber air, udara dan unsur-unsur hara. Fungsi media tersebut dapat terpenuhi oleh media tanah. Selain media tanah, masih ada media lain yang dapat dimanfaatkan, misalnya media arang sekam, akar pakis, arang kayu, pecahan genting dan pasir. Berbeda dengan media tanah, media tersebut kurang mampu menyediakan unsure-unsur hara. Pada pengunaannya sangat memerlukan pemberian unsur hara. Pada percobaan kali ini akan dicoba media pasir untuk menumbuhkan bawang daun, bayam cabut dan kangkung secara hidroponik.

Baca Lanjutannya…

APLIKASI PUPUK HAYATI

APLIKASI PUPUK HAYATI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pupuk hayati merupakan bahan yang mengandung unsu mikroorganisme baik jamur maupun bakteri. Ada beberapa bentuk pupuk hayati misalnya berupa cairan atau padatan. Sebagai contoh adalah EM-4, M-Bio dan lain-lain (cairan), pupuk hayati Mikoriza, Rhizoplus, Rhizogen (padatan).
Pupuk hayati mikoriza mengandung jamur mikoriza yaitu sejenis jamur tanah yang mempunyai peran dalam menyediakan unsure hara bagi tanaman terutama P, sedangkan EM-4 dan M-Bio mengandung beberapa bakteri yang berperan menyediakan unsure hara bagi tanaman. Karena secara langsung maupun tidak langsung dapat menambah ketersediaan unsure maka aplikasi pupuk hayqati dapat mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk pabrik, pestisida dan juga dapat menanggulangi pemakaian pestisida.
Aplikasi pupuk hayati di bidang pertanian merupakan salah satu alternative untuk mendukung pertanian organik atau pertanian berkelanjutan untuk menanggulangi persoalan lingkungan dan keamanan hasil panen.

Baca Lanjutannya…

Aku Merindukan Bumi

Aku merindukan bumi

Jakarta, 2 Maret 2007

Kini aku berdiri

Diantara dinding-dinding beton yang berdiri menjulang

Diantara langit-langit beton seolah ia melindungiku

Diantara jalan-jalan yang saling berhimpit menahan beban kaum materialis

Bahkan aku berdiri di atas beton yang tersusun rapat hingga air-pun tak dapat lewat

Baca Lanjutannya…

PERTANIAN ORGANIK

PERTANIAN ORGANIK

  1. I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pertanian organik sebagai salah satu teknologi alternatif untuk menanggulangi persoalan lingkungan sangat diperlukan. Persoalan besar yang terjadi disebabkan karena pencemaran tanah, air dan udara sehingga menyebabkan terjadinya degradasi dan kehilangan sumber daya alam serta penurunan produktivitas tanah. Pertanian berbasis kimia yang mempunyai ketergantungan cukup besar pada pupuk dan pestisida telah mempengruhi kualitas dan keamanan bahan yang dihasilkan, kesehatan dan kehidupan bahan lainnya. Dengan memperhitungkan generasi mendatang maka pertanian organik menghasilkan interaksi yang bersifat dinamis antara tanah, tanaman, hewan, manusia, ekosistem dan lingkungan. Konsep prtanian organic belumdapat diterapkan secara murni mengingat cukup banyak kendala yang dihadapi. Pada tahap awal pertanian organik dapat diterapkan dengan sistem perpaduan pertanian organik dan pertanian kimia yang dikenal dengan pertanian input rendah LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture).

Baca Lanjutannya…

Kereta Pagi (1)

Ini adalah tentang pagi. Pagi yang indah dan jarang ku temui. Ya, jarang kutemui,… Karena dalam seminggu biasanya aku hanya berjumpa pagi paling banyak tiga-empat kali, tak tentu. Tetapi aku bersyukur, karena setiap aku berjumpa pagi, pagi akan selalu tampil indah mempesona walau tampil seadanya.

Suatu waktu, beberapa tahun yang lalu, aku ikut serta dalam suatu latihan kepemimpinan di daerah Bogor. Kami berangkat dari stasiun Purwokerto sekitar pukul 00.00 WIB. Tepat tengah malam, menggunakan kereta api ekonomi dengan tujuan stasiun Senen Jakarta Pusat. Kalian tahu kan kereta ekonomi, kereta yang telah bau karat, apek menyatu dengan bau keringat penumpang yang menguap mengisi ruang gerbong tua yang melaju santai dan akan banyak berhenti di beberapa stasiun kecil sepanjang perjalanan.

Baca Lanjutannya…

POTENSI SUMBERDAYA KELAUTAN INDONESIA

POTENSI SUMBERDAYA KELAUTAN INDONESIA
Oleh :
Luqman Wibowo
BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan panjang pantai lebih dari 81.000 km, dimana 2/3 wilayah kedaulatannya berupa perairan laut. Laut merupakan sumber kehidupan karena memiliki potensi kekayaan alam hayati dan nir-hayati berlimpah. Sumber kekayaan alam tersebut, menurut amanat Pasal 33 UUD-1945 harus dikelola secara berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.
Indonesia-pun adalah negara maritim. Namun, mengutip ungkapan Pramudya Anantatur (Tempo), ia menyatakan bahwa ada sedikit kesalahan paradigma yang di set oleh dan menjadikan Indonesia gagal dalam pembangunan, yaitu meninggalkan laut. Padahal menurutnya, sewaktu masih kanak-kanak kita senang sekali menyanyikan lagu “nenek moyangku seorang pelaut…”. Kesalahan maindset yang diterapkan akhirnya berbuah tetinggalnya Indonesia dalam upaya mengoptimalkan hasil lautnya, pencurian-pencurian ikan dan hasil laut Indonesia-pun kerap terjadi, khususnya kawasan timur Indonesia. Baca Lanjutannya…

MENYONGSONG MASA DEPAN ATASI KRISIS ENERGI

MENYONGSONG MASA DEPAN
ATASI KRISIS ENERGI
Oleh :
Luqman Wibowo

BAB I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Ditinjau dari perspektif fisika, setiap sistem fisik mengandung (secara alternatif, menyimpan) sejumlah energi; berapa tepatnya ditentukan dengan mengambil jumlah dari sejumlah persamaan khusus, masing-masing didesain untuk mengukur energi yang disimpan secara khusus. Secara umum, adanya energi diketahui oleh pengamat setiap ada pergantian sifat objek atau sistem. Tidak ada cara seragam untuk memperlihatkan energi.

Masih dalam perspektif fisika, kita mengenal sebuah teori bahwa
Energi tak dapat dihapus atau dihilangkan, tetapi energi dapat dipindahkan

Issaac Newton dikenal dengan Hukum I Newton

Baca Lanjutannya…

OSMOREGULASI

OSMOREGULASI
Oleh :
Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL
Tabel. Data pengaruh salinitas terhadap plasma darah pada ikan

tabel os

Grafik Hubungan Salinitas dengan Osmolalitas Plasma

osmoregulasi grafikGrafik Hubungan Salinitas dengan Osmolalitas Media

grafik 2Toleransi Salinitas Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)
Diketahui = Nt (ikan yang hidup) = 0
No (ikan awal) = 10
Sintasan (SR) = Mortalitas (M) = 100% – SR
= = 100 % – 0 %
= 0 % = 100 %
Baca Lanjutannya…

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG PADA KATAK

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG PADA

KATAK (Rana sp.)

Oleh :

Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel kontraksi otot gastroknemus pada Katak (Rana sp.)

Kelompok

Amplitudo (mm)

0 V

5 V

10 V

15 V

20 V

25 V

I 0 0 3 4,9 5,7 6,9
II 0 2,8 34,7 32,3 37,5 39,3
III 0 0,26 0,8 0,79 1,27 1,35
IV 0 5,1 10,2 13,6 16,3 14,5
V 0 0,2 7,3 9,5
VI 0 6,4 7,2 8,4 11,6 5

grafik

Grafik. Hubungan antara voltase dan amplitudo pada kontraksi otot gastroknemus

Baca Lanjutannya…

FUNGSI CHEMORESEPTOR PADA UDANG

FUNGSI CHEMORESEPTOR PADA UDANG

Oleh :

Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel gerakan Antenulla pada Udang 15’ Pertama

No Perlakuan Flicking Wipping Withdraw Rotation Mendekati Pakan
1. Ablasi Mata 3’7”; 5’2”; 1’54”; 2’15”; 2’33”; 8’22”; 8’34”; 8’35”; 13’19” 1’28”; 1’35”; 5’12”; 5’41”; 9’42”; 9’45”; 9’49”; 11’35”; 11’52”; 12’47”; 12’54”

1’34”; 1’75”; 2’08”; 2’2”; 2’6”; 2’8”; 3’3”;3’99”;

4’22”; 4’4”; 4’53”; 6’28”; 7’05”; 7’22”; 8’58”; 9’54”; 10’03”;10’58”11’3”;11’56”; 11’74”;12’23”12’36;12’41”; 13’02”;13’31”

2’46”; 4’38”;4’51”5’30”;6’8”; 6’18”; 6’34”; 6’40”; 6’50”; 9’56”; 10’45”; 11’1”; 11’18”; 11’29”; 11’63’; 12’50”; 12’57” 7’
2. Ablasi Antenulla - - - - -
3 Ablasi Total - - - - -
4 Normal

0’16”;0’37”1’07”;2’0”;2’16”;2’38”3’17”;3’29”3’43”;3’51”4’16”;4’21”4’30”;5’03”5’15”;5’37”5’41”;6’17”6’23”;6’42”6’54”;7’13”7’34”;7’51”7’59”;9’07”9’30”;9’34”9’39”;9’47”9’49”;10’06

10’11”;10’20”;10’31”;10’36”;10’4311’24”;12’49”;12’59”;13’17”;13’1914’21”;14’23”;14’27”;14’36”

2’14”

0’26”;0’42”;

1’45”;4’37”;

5’13”;5’47”;

5’53”;6’09”;

9’119’31”;

9’37”;10’07”;

10’19”;11’41”

1’14”;8’19”9’18”;9’23” 0’54”

Tabel gerakan Antenulla pada Udang 15’ Kedua

No Perlakuan Flicking Wipping Withdraw Rotation Mendekati Pakan
1. Ablasi Mata 4’36”;5’38”5’42”;5’55”6’57”;7’50”8’45”;9’58”10’01’;10’09”;10’49”; 11’47”; 13’41” 0’16”;1’44”;3’11”; 3’19”;3’26”;5’14”;5’19”;5’21”;8’14”;8’34”;8’57”;9’31”;10’31”;10’42”;11’50”;12’50” 0’13”;0’27”;0’52”;1’07”;1’53”;2’22”;2’38”;2’48”;2’51”;3’02”;3’32”;3’52”;4’42”;4’52”;5’30”;5’40”;6’11”;6’34”;6’41”;6’59”;7’03”;7’21”;7’42”;7’52”;8’02”;8’24”;8’43”;9’04”;9’47”;9’53”;10’20”;10’36”;10’51”;11’22”;11’37”;12’10”;12’51”;13’52”;14’10” 1’33”;1’44”;3’11”;3’19”;3’26”;5’14”5’19”;5’21”;8’14”;8’34”;8’57”;9’31”;10’31”;10’42”;11’50”;12’50” 6’06”;12’17”;13’05”;13’08”
2. Ablasi Antenulla - - - - -
3 Ablasi Total - - - - 5’23”;58’05”
4 Normal 0’46”;0’49”;0’52”;0’54”;0’59”;1’10”;1’12”;1’22”;1’25”;1’52”;1’53”;1’56”;2’00”2’08”;2’14’;2’41’;2’51”;3’03”;3’25”;4’46”;4’59”;5’23”;5’31”;5’43”;6’01”;6’07”;6’11”;6’19”;6’33”;6’41”;6’48”;6’57”;7’13”;7’29”;7’37”;7’42”;7’55”;7’58”;8’08”;8’19”;8’25”;8’36’;8’49”;8’51’;9’06”;9’13”;9’43”;10’31”;10’46”;10’86” 0’19”;5’08”;5’22”;8’20” 1’15”;2’22”;2’32”;6’19”;6’27”;6’33”;7’09”;7’19”;7’35”;7’47”;8’27”;8’36”;9’13”;9’27”;9’34”;9’48”;9’54”;10’18’;10’27”;11’25”;11’39’;11’46”;12’19”;12’35”;13’29” 4’25”;4’34”6’42”

4’03”;4’04”;4’05”;

4’07”

Baca Lanjutannya…

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

EFEK HORMONAL PADA OVULASI DAN PEMIJAHAN IKAN

Oleh :

Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Data Hasil Pengamatan Efek Hormonal Pada Ovulasi Dan Pemijahan Ikan Nilem

Waktu

Keterangan

20.00 WIB

Dilakukan penyuntikan pada ikan resipien

16.00 WIB

Dilakukan pengamatan dan hasilnya tidak terjadi pemijahan pada ikan resipien.

Baca Lanjutannya…

PEWARNAAN ALIZARIN RED

PEWARNAAN ALIZARIN RED

I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Alizarin red merupakan suatu metode untuk mengetahui pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. Tulang yang diwarnai oleh Alizarin red akan berwarna merah tua, yang menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna merah tua terbentuk karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks tulang. Proses kalsifikasi pada embrio ayam dapat diamati ketika mulai umur inkubasi 9 hari.

Baca Lanjutannya…

My Idola

ini di idolaku. lebih jos dari pada Che Guevara sekalipun. tapi klo di banding para sahabat Rosul sih mang bukan untuk dibandingkan kali,………

hehe, ni di fotonya. Produk lokal alias anak negeri.

sudirman

Savira

SAVIRA

Luqman Wibowo

Maaf

Aku tak tahu

Apapun tentangmu

Jangankan perasaanmu

Bahkan wujudmu aku tak tahu

Baca Lanjutannya…

Bentangkan Sayapmu

luqman

Bentangkan sayapmu
Biarkan angin membawamu
Jelajahi cakrawala
nikmati Dunia

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN GULMA SECARA TERPADU (PHPT)

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT DAN GULMA SECARA TERPADU

(PHPT)

Oleh : Neng Susi Suniarsyih*

  1. PENDAHULUAN

Siapa dan petani mana yang tak khawatir jika tanamannya diserang hama? Apalagi jika menjelang panen? Hampir semua petani di belahan dunia merasakan kekhawatiran dan menggunakan banyak cara untuk membunuh hama. Di Indonesia sendiri, penanganan hama tak luput dari perhatian pemerintah. Ini demi menyelamatkan sumber pangan yang sangat berpengaruh bagi kestabilan pangan rakyat.

Dalam sudut pandang konvensial, hama bisa diartikan organisme yang dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi pertanian. Jadi, secara umum jika ada organisme apapun itu, yang mengakibatkan penurunan hasil produksi bisa disebut sebagai hama. Namun pada dasarnya, Hama adalah binatang yang bersifat pengganggu terhadap petumbuhan dan perkembangan tanaman. Contoh-contoh hama misalnya: tikus, wereng, burung pemakan biji-bijian, penggerek batang, tungro, blas, lembing batu dan keong mas.

Selain hama, yang menjadi perhatian serius adalah gulma. Tanaman yang tumbuh di sekitar areal tanam/persawahan mengganggu karena menjadi pesaing tanaman padi dalam memanfaatkan unsur hara, air, dan ruang. Selain berebut tiga hal tersebut, gulma sendiri menjadi tempat hidup dan bernaung hama dan penyakit tanaman, serta menyumbat saluran air. Pada lahan yang terus menerus tergenang, gulma yang paling banyak dijumpai adalah gulma air (eceng, semanggi, jajagoan, jujuluk), sedangkan pada lahan yang tidak tergenang, sebagian besar adalah gulma darat (alang-alang, gerintingan, babadotan, dll.).

  1. Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan dasar kebijakan pemerintah dalam melaksanakan kegiatan perlindungan tanaman. Landasan hukum dan dasar pelaksanaan kegiatan perlindungan tanaman adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Keputusan Menteri Pertanian No. 887/Kpts/ OT/9/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT. Secara operasional, dalam implementasinya terutama berkaitan dengan otonomi daerah, disesuaikan dengan pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan sesuai Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang pelaksanaan otonomi daerah. Baca Lanjutannya…

SOSOK DALAM JIWA

SOSOK DALAM  JIWA

Luqman wibowo

I
Lirih
Sayup
Terdengar
Berbisik
“Lihatlah ke atas sana”

Ku dongakkan kepalaku
Menengadah keatas
Menghadap langit

Pelan
Sayup
Terdengar
Berbisik
“Buka Jendela Jiwamu”

Kutajamkan Penglihatanku
Kurenyitkan dahi
Ku serang angkasa gelap menembus gulita

Baca Lanjutannya…