PERTANIAN ORGANIK

PERTANIAN ORGANIK

  1. I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pertanian organik sebagai salah satu teknologi alternatif untuk menanggulangi persoalan lingkungan sangat diperlukan. Persoalan besar yang terjadi disebabkan karena pencemaran tanah, air dan udara sehingga menyebabkan terjadinya degradasi dan kehilangan sumber daya alam serta penurunan produktivitas tanah. Pertanian berbasis kimia yang mempunyai ketergantungan cukup besar pada pupuk dan pestisida telah mempengruhi kualitas dan keamanan bahan yang dihasilkan, kesehatan dan kehidupan bahan lainnya. Dengan memperhitungkan generasi mendatang maka pertanian organik menghasilkan interaksi yang bersifat dinamis antara tanah, tanaman, hewan, manusia, ekosistem dan lingkungan. Konsep prtanian organic belumdapat diterapkan secara murni mengingat cukup banyak kendala yang dihadapi. Pada tahap awal pertanian organik dapat diterapkan dengan sistem perpaduan pertanian organik dan pertanian kimia yang dikenal dengan pertanian input rendah LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture).

Prospek pengembangan pertanian organik di Indonesia dengan menggunakan pupuk organik dan pestisida nabati, pupuk hayati, masih menghadapi kendala yaitu penggunaaan pupuk organik perlu takaran cukup banyak dan menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa tanaman dan limbah organik lainnya.

Dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia masih menghadapi beberapa kendala antara lain pupuk hayati masih berada di tahap awal pengembangan dan belum ditemukan kombinasi yang sesuai antara puuk kimia/pupuk hayati yang sesuai dengan kondisi tanah.

  1. B. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah:

  1. Membandingkan berbagai dosis pupuk organik dengan mengurangi penggunaan pupuk anorganik dari dosis anjuran yaitu 75% dan 50%.
  2. Mempelajari pertumbuhan pemanfaatan pupuk organik dan kimia dengan berbagai dosis kombinasi.
  1. II. TINJAUAN PUSTAKA

Istilah pertanian organik dimunculkan karena konsep pertanian ini mempergunakan asupan yang bersifat organik, dan dalam perkembangannya mempunyai banyak sekali aliran dan pola tersendiri hampir di tiap wilayah. Hal ini dilatarbelakangi oleh konsep dan pandangan yang berbeda-beda mengenai pertanian organik itu sendiri.

Berbagai konsep mengenai pola pertanian organik atau berwawasan lingkungan itu dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Pertanian biodinamis: sistem budidaya yang mendasarkan pada peredaran bulan;
  2. Pertanian ekologis: pertanian yang tanpa merubah lingkungan setempat;
  3. Pertanian permaculture: pertanian yang menerapkan pola pertanian permanen in situ dan terpadu dari berbagai komponen pertanian dan peternakan;
  4. Pertanian biologis: pertanian yang menitik beratkan pada keseimbangan organisme;
  5. Pertanian natural: sistem pertanian yang mendasarkan pada pandangan hidup bahwa alam telah mengatur dirinya sendiri. Perbedaan wawasan dan pendekatan pertanian berlingkungan atau pertanian organik yang berbeda-beda menghasilkan variasi praktek pertanian organik yang berbeda-beda, kendatipun barangkali tujuannya sama.
  6. Pengertian Dasar Pertanian Organik

Pakar pertanian barat menyebutkan bahwa sistem pertanian organik merupakan “hukum pengembalian (lowof return)” yang berarti suatu sistem yang berusaha mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanaman maupun ternak yang selanjutnya bertujuan memberi makanan pada tanaman.

Filosofi yang melandasi pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsi memberi makanan pada tanah yang selanjutnya tanah menyediakan makanan untk tanaman (feeding the soil that feeds the plants), dan bukan memberi makanan langsung pada tanaman. Von Uexkull (1984) memberikan istilah “membangun kesuburan tanah”. Strategi pertanian organik adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos dan pupuk kandang menjadi biomass tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah. Dengan kata lain, unsur hara didaurlang melalui satu atau lebih tahapan bentuk senyawa organik sebelum diserap tanaman. Hal ini berbeda sama sekali dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat dan langsung dalam bentuk larutan sehingga segera diserap dengan takaran dan waktu pemberian yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

  1. Kegunaan Budi Daya Organik

Kegunaan budidaya organik pada dasarnya ialah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budi daya kimiawi. Pupuk organik dan pupukl hayati mempunyai berbagai keunggulan nyata dibandingkan dengan pupuk kimia. Pupuk organik dengan sendirinya merupakan keluaran setiap budi daya pertanian, sehingga merupakan sumber unsur hara mikro dan makro yang dapat dikatakan cuma-cuma.

Meskipun sistem pertanian organik dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan cukup banyak kepada pembangunan pertanian rakyat dan penjagaan lingkungan hidup, termasuk konservasi sumber daya lahan, namun penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan umum dan sosiol-politik sangat menentukan sarah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi (Susanto, 2002).

III. PELAKSANAAN PERCOBAAN

  1. A. Bahan dan Alat
    1. Bahan
      1. Benih caisim
      2. Pupuk kompos butiran (PUKOTIR)
      3. Pupuk anorganik
      4. Media tanam yaitu tanah, pasir dan pupuk kandang dengan  perbandingan 1:1:1.
      5. Air
      6. Alat
        1. Polibag 6 buah
        2. Label
        3. Alat penyiram

  1. B. Prosedur Kerja
    1. Menyiapkan semua alat dan bahan.
    2. Menyiapkan media tanam dalam polibag dengan berbagai dosis campuran pupuk organik dan pupuk kimia. Dosis pupuk yang digunakan yaitu:

-          Dosis pupuk kompos butiran (Pukotir): K0 = 0 dan K1 = 4 ton/ha.

-          Dosis pupuk anorganik 100% (P0), 75% (P1) dan 50% (P2) dari dosis rekomendasi.

  1. Benih yang telah ditanam dipelihara sampai layak untuk dipanen.

  1. IV. HASIL dan PEMBAHASAN

  1. A. Hasil Pengamatan
    1. Tabel Pengamatan
Kombinasi Pupuk (Perlakuan) Tanggal Pengamatan Bobot Segar (gr)
10/12/08 17/12/08 24/12/08 30/12/08
T D T D T D T D
NoPo 1 17 4 18,6 4 20,3 5 24,7 5 18
2 16,5 3 17,9 4 19,7 5 24 5 16
NoP1 1 18 4 19,5 4 21 5 24,2 6 17
2 17 4 18,3 4 20 6 23,7 6 16
NoP2 1 18,5 4 19,6 5 20,8 5 23,5 6 17
2 16 4 17,6 5 18,9 6 22,2 6 10
N1Po 1 19 2 19,8 3 21,2 3 24 4 18
2 17 4 18,5 4 19,7 5 23,2 5 16
N1P1 1 18 3 20 3 21,5 4 25 4 18
2 16 3 17,5 4 18,8 4 23,9 5 15
N1P2 1 19 4 20,2 6 21 6 23,8 6 15
2 18 4 18,8 5 19,6 6 22,3 6 10
  1. Rata-rata
Kombinasi Pupuk (Perlakuan) Tanggal Pengamatan Bobot Segar (gr)
10/12/08 17/12/08 24/12/08 30/12/08
T D T D T D T D
NoPo 16,75 3,5 18,25 4 20 5 24,35 5 17
NoP1 17,5 4 18,9 4 20,5 5,5 23,95 6 16,5
NoP2 17,25 4 18,6 5 19,85 5,5 22,85 6 13,5
N1Po 18 3 19,25 3,5 20,45 4 23,6 4,5 17
N1P1 17 3 28,75 3,5 20,15 4 24,45 4,5 16,5
N1P2 18,5 4 19,5 5,5 40,6 6 23,05 6 12,5

Keterangan:     T = Tinggi Tanaman (cm)                    1 = Tanaman Caisim 1

D = Jumlah Daun                                2 = Tanaman Caisim 2

  1. B. Pembahasan

Dalam GBHN 1993 pembangunan pertanian hortikultura yang meliputi tanaman sayuran, buah-buahan dan tanaman hias ditumbuh kembangkan menjadi agribisnis dalam rangka memanfaatkan peluang dan keunggulan komparatif berupa : iklim yang bervariasi, tanah yang subur, tenaga kerja yang banyak serta lahan yang tersedia. Produksi hortikultura diarahkan agar mampu mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri termasuk agroindustri serta memenuhi kebutuhan pasar luar negeri.

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu penerapan sistem budidaya hortikultura yang lebih baik serta penggunaan teknologi yang tepat dan berwawasan lingkungan, yang sering dikenal dengan sistem GAP (Good Agricultural Practice). Sebagaimana kita ketahui sektor hortikultura baru mendapat perhatian setelah usaha swasembada beras tercapai, sehingga hasil-hasil penelitian yang dapat diterapkan untuk pengembangan hortikultura di Indonesia masih terbatas.

Teknologi yang saat ini diterapkan merupakan teknologi yang berorientasi pada pencapaian target produksi dengan menggunakan masukan produksi yang semakin meningkat, seperti bibit unggul, pupuk buatan, pestisida dan zat pengatur tumbuh. Disamping hasil positif dengan peningkatan produksi, penggunaan masukan modern juga mendatangkan dampak negatif bagi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, antara lain adalah sebagai berikut :

  • Penggunaan pupuk buatan mendatangkan pencemaran pada air permukaan dan air tanah dengan adanya residu  nitrat dan fosfat, dan tanah menjadi semakin berkurang kesuburannya karena penggunaan pupuk berlebihan.
  • Penggunaan varietas unggul yang monogenik dan seragam secara spesial dan temporal mengurangi keanekaragaman hayati, dan hilangnya berbagai jenis tanaman asli.
  • Penggunaan pestisida yang berlebihan akan mengakibatkan resistensi, resurjensi hama, timbulnya hama sekunder, terbunuhnya binatang bukan sasaran dan residu racun pada buah dan sayuran serta lingkungan.
  • Selain itu kegiatan pertanian secara intensif juga berperan dalam proses pemanasan bumi atau efek rumah kaca dan penipisan lapisan ozon antara lain melalui emisi gas metan dan N2O akibat penggunaan pupuk buatan ( Kasumbogo Untung, 1994).

Dewasa ini lingkungan yang dikaitkan dengan produk pertanian sedemikian kuatnya diluncurkan terutama di negara-negara maju, sehingga penduduknya menuntut agar produk pertanian bebas dari cemaran bahan kimia, dan mereka  mulai lebih suka mengkonsumsi produk yang dihasilkan melalui proses alami yang dikenal dengan pertanian organik (“organic farming”).

Pertanian organik merupakan salah satu alternatif budidaya pertanian yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan yang bebas dari segala bentuk bahan inorganik seperti pupuk buatan,  pestisida dan zat pengatur tumbuh.  Pertanian organik memadukan  berbagai cara seperti pergiliran tanaman, tumpangsari, penggunaan sisa bahan organik sebagai pupuk, serta pengendalian hama secara terpadu dengan mengoptimalkan cara biologis (Kasumbogo Untung, 1994). Kecenderungan seperti ini membuka suatu peluang baru dalam bisnis di bidang pertanian terutama tanaman hortikultura yang produknya sering dikonsumsi secara langsung atau dalam keadaan segar (Sunu, P. et al. 2006).

Pertanian Organik adalah sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan.  Budidaya tanaman berwawasan lingkungan adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup. Seperti halnya dari artikel dari sebuah Koran menyebutkan bahwa :

Gerakan Gaya Hidup Sehat sedang melanda dunia, yang bertemakan “Back To Nature”. Tren baru tersebut telah bermunculan, di mana masyarakat menginginkan sesuatu makanan yang benar-benar serba alami, kurang dan bebas dari zat kimia, pestisida, hormon, dan pupuk kimia. Pangan organik dianggap memenuhi persyaratan tersebut sehingga permintaan dan peluang pemasarannya meningkat.

Komponen Pertanian Organik

  1. a. Lahan

Lahan yang dapat dijadikan lahan pertanian organik adalah lahan yang bebas cemaran bahan agrokimia dari pupuk dan pestisida. Terdapat dua pilihan lahan yaitu lahan pertanian yang baru dibuka dan lahan pertanian intensif yang dikonversi untuk lahan pertanian organik.

  1. b. Budidaya pertanian organik

Selain aspek lahan, aspek pengelolaan pertanian organik dalam hal ini terkait dengan teknik budidaya juga perlu mendapat perhatian tersendiri. Sebagai salah satu contoh adalah teknik bertani sayuran organik, seperti diuraikan di bawah ini.

  • Tanaman ditanam pada bedengan-bedengan dengan ukuran bervariasi disesuaikan dengan kondisi lahan
  • Menanam strip rumput di sekeliling bedengan untuk mengawetkan tanah dari erosi dan aliran permukaan
  • Mengatur dan memilih jenis tanaman sayuran dan legum yang sesuai untuk sistem tumpang sari atau multikultur seperti contoh lobak, bawang daun dengan kacang tanah dalam satu bedengan.
  • Mengatur rotasi tanaman sayuran dengan tanaman legum dalam setiap musim tanam. Mengembalikan sisa panen/serasah tanaman ke dalam tanah (bentuk segar atau kompos).
  • Memberikan pupuk organik (pupuk hijau, pupuk kandang, dan lainnya), hingga semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman menjadi tersedia.
  • Menanam kenikir, kemangi, tephrosia, lavender, dan mimba di antara bedengan tanaman sayuran untuk pengendalian hama dan penyakit.
  • Menjaga kebersihan areal pertanaman.
  1. c. Aspek penting lainnya

Dalam pertanian organik yang sesuai dengan standar yang ditetapkan secara umum adalah mengikuti aturan berikut:

  • Menghindari benih/bibit hasil rekayasa genetika. Sebaiknya benih berasal dari kebun pertanian organik,
  • Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis, zat pengatur tumbuh, pestisida. Pengendalian hama dilakukan dengan cara mekanis, biologis dan rotasi tanaman,
  • Peningkatan kesuburan tanah dilakukan secara alami melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman legum.
  • Penanganan pasca panen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.

Permasalahan Seputar Pertanian Organik

  1. a. Penyediaan pupuk organik

Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan dasar tanaman (minimum crop requirement) cukup membuat petani kewalahan. Sebagai ilustrasi, untuk menanam sayuran dalam satu bedengan seluas 1 x 10 m saja dibutuhkan pupuk organik (kompos) sekitar 25 kg untuk 2 kali musim tanam atau setara dengan 25 ton/ha. Bandingakan dengan penggunaan pupuk anorganik Urea TSP dan KCl yg hanya membutuhkan total pemupukan sekitar 200-300 kg/ha. Karena memang umumnya petani kita bukan petani mampu yang memiliki lahan dan ternak sekaligus, sehingga mereka mesti membeli dari sumber lainnya dan ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi disamping tenaga yang lebih besar.

  1. b. Teknologi pendukung

Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaa pertanian organik di musim hujan.

  1. c. Pemasaran

Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyatannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal ini.

Pertanian organik yang diterapkan pada percobaan kali ini menggunakan polibag sebagai wadah media. Menggunakan media tanah, pupuk kompos non butiran dengan dosis yang berbeda-beda, serta pupuk anorganik dengan dosis yang berdasarkan rekombinasi.

Pengolahan media dilakukan secara bersamaan, dimana media dicampur dengan pupuk kompos non butiran dan dikombinasi dengan pupuk anorganik. Dosis masing-masing pupuk per polibag sudah ditentukan. Proses penanaman dilakukan secara bersamaan dan air sangat berperan penting dalam penyerapan unsur-unsur hara, polibag ditaruh pada tempat yang tidak langsung terkena sinar matahari.

Pengamatan dilakukan ± tiga minggu, dan hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman lebih cepat dengan kombinasi pupuk NoPo dengan rata-rata tinggi tanaman 24,35 dan bobot segar 17 gr.  Untuk rata-rata helai daun yan paling banyak adalah kombinasi pupuk NoP1, NoP2, dan N1P2 yaitu 6 helai. Dan yang paling sedikit adalah kombinasi kombinasi pupuk N1PO dan NoP1 sebanyak 4,5 helai.

Berdasarkan kejadian diatas dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya penggunaan pupuk organik maupun anorganik membantu proses pertumbuhan dan tidak selamanya mempengaruhi kesuburan tanaman, karena tanah sebagai media tanam masih banyak menyimpan unsur-unsur hara serta bakteri-bakteri yang membantu pertumbuhan.

Menurut Sugeng Winarso, bahwa penggunaan pupuk secara setimbang akan meningkatkan produksi tanaman. Peningkatan produksi juga meningkatkan jumlah sisa-sisa tanaman (daun, batang, akar) yang dapat tetinggal atau yang dapat dikembalikan ke dalam tanah. Berdasarkan perhitungan neraca kesetimbangan unsur hara, pengembalian 80% sisa-sisa tanaman dapat memperkaya cadangan unsur hara, sehingga mengurangi kebutuhan hara yang harus ditambahkan. Perlakuan ini jika dilakukan secara terus menerus akan terus mengurangi kebutuhan hara sehingga akan dicapai kondisi hara yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman tinggi tanpa ada masukan pupuk dari luar.

Secara garis besar, keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk organik adalah sebagai berikut:

  • Mempengaruhi sifat fisik tanah, warna tanah dari cerah akan berubah menjadi kelam hal ini akan berpengaruh terhadap sifat fisik tanah.
  • Mempengaruhi sifat kimia tanam, kapasitas tukar kation dan ketersediaan hara meningkat dengan penggunaan bahan organik.
  • Mempengaruhi sifat biologi tanah, bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan mikroorganisme tanah.
  • Mempengaruhi kondisi social, daur ulang limbah perkotaan maupun pemukiman akan mengurangi dampak pencemaran dan meningkatkan penyediaan pupuk organik.
  1. V. SIMPULAN dan SARAN

  1. 1. Simpulan
  1. Di Indonesia belum mampu menerapkan 100% penggunaan pertanian organik oleh sebab itu perlu ada penyeimbang menggunakan pertanian konvensional (penggunaan bahan kimia) tetapi dosis yang digunakan lebih sedikit.
  2. Pertumbuhan tanaman lebih cepat dengan kombinasi pupuk NoPo dengan rata-rata tinggi tanaman 24,35 dan bobot segar 17 gr.  Untuk rata-rata helai daun yan paling banyak adalah kombinasi pupuk NoP1, NoP2, dan N1P2 yaitu 6 helai. Dan yang paling sedikit adalah kombinasi kombinasi pupuk N1PO dan NoP1 sebanyak 4,5 helai.
  3. Pertanian organik di definisikan sebagai sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan.
  4. Tidak selamanya penggunaan pupuk organik maupun anorganik membantu proses pertumbuhan dan tidak selamanya mempengaruhi kesuburan tanaman, karena tanah sebagai media tanam masih banyak menyimpan unsur-unsur hara serta bakteri-bakteri yang membantu pertumbuhan.
  1. 2. Saran
    1. Kedisiplinan percobaan ditingkatkan lagi.
    2. Sarana dan prasarana lebih ditingkatkan agar berjalannya percobaan lebih baik. Tempat penyimpanan hasil percobaan sebaiknya ditempat khusus agar tanaman tidak rusak maupun hilang.
    3. Kurangnya motivasi kepada para praktikan, menyebabakan apa yang diperoleh  tidak sepenuhnya didapatkan, saran dari saya bahwa percobaan ada kelanjutannya.

DAFTAR PUSTAKA

BIOCert. 2007. Prinsip-prinsip Pertanian Organik

http://biocert.or.id/infoguide-info.php?id=76 prinsip p.Orgnk. (online)

Diakses tanggal 10 Januari 2008.

Kasumbogo Untung,  1994.  Peranan Hortikultura dalam Perbaikan Lingkungan Hidup. Proc. Simp. Hort. Nas., Malang.  P 22 – 25.

PPI. 2007. Peluang dan Tantangan Pertanian Organik

http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=80 p.orgnk 1. (online)

Diakses tanggal 10 Januari 2008.

PPI. 2007. Pertanian Organik

http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=101 p.orgnk 4. (online)

Diakses tanggal 10 Januari 2008.

Susanto, Rachman. 2002. Penerapan Pertanian Organik Pemasyarakatan & Pengembangannya. Kanisius. Yogyakarta.

Sunu, P. dan Wartoyo. 2006. Dasar-dasar Hortikultura (on-line). http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/dashor.html, diakses pada tanggal 10 Januari 2008.

Winarso, Sugeng. 2005. Kesuburan Tanah Dasar Kesehatan dan Kualitas Tanah. Gava Media. Yogyakarta.

Web master@litbank.or.id.2001 University of Wyoming, Agroecology 1000, T.J. Drommond, Stacy Dysart, Andy Olson.

Winarno FG.2002. Pangan organic dan perkembangannya di Indonesia. http:/kompas.com/www.kompas.co/kompas-cetak/0211/iptek/pang 30 htm (online) diakses 10 Januari 2008.

About these ads

2 Komentar

  1. sudah sebaiknya kita kembali kepada yang natural pada masa globalisasi ini yang serba instan dimana bahwasannya hal tersebut mangancam kesehatan….go green go natural agricullture

  2. Menurut saya pertanian organik adalah pertanian masa kini dan masa depan. Banyak orang di negara2 maju yang suka dengan Pangan yang sehat dan bergizi tinggi yaitu yang diproduksi dari bahan-bahan alami tanpa merusak lingkungan. Tulisan anda sangat inspiratif dan mencerahkan. Thanks. Mari kita majukan pertanian organik di bumi Indonesia.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.