FUNGSI CHEMORESEPTOR PADA UDANG

FUNGSI CHEMORESEPTOR PADA UDANG

Oleh :

Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel gerakan Antenulla pada Udang 15’ Pertama

No Perlakuan Flicking Wipping Withdraw Rotation Mendekati Pakan
1. Ablasi Mata 3’7”; 5’2”; 1’54”; 2’15”; 2’33”; 8’22”; 8’34”; 8’35”; 13’19” 1’28”; 1’35”; 5’12”; 5’41”; 9’42”; 9’45”; 9’49”; 11’35”; 11’52”; 12’47”; 12’54”

1’34”; 1’75”; 2’08”; 2’2”; 2’6”; 2’8”; 3’3”;3’99”;

4’22”; 4’4”; 4’53”; 6’28”; 7’05”; 7’22”; 8’58”; 9’54”; 10’03”;10’58”11’3”;11’56”; 11’74”;12’23”12’36;12’41”; 13’02”;13’31”

2’46”; 4’38”;4’51”5’30”;6’8”; 6’18”; 6’34”; 6’40”; 6’50”; 9’56”; 10’45”; 11’1”; 11’18”; 11’29”; 11’63’; 12’50”; 12’57” 7’
2. Ablasi Antenulla
3 Ablasi Total
4 Normal

0’16”;0’37”1’07”;2’0”;2’16”;2’38”3’17”;3’29”3’43”;3’51”4’16”;4’21”4’30”;5’03”5’15”;5’37”5’41”;6’17”6’23”;6’42”6’54”;7’13”7’34”;7’51”7’59”;9’07”9’30”;9’34”9’39”;9’47”9’49”;10’06

10’11”;10’20”;10’31”;10’36”;10’4311’24”;12’49”;12’59”;13’17”;13’1914’21”;14’23”;14’27”;14’36”

2’14”

0’26”;0’42”;

1’45”;4’37”;

5’13”;5’47”;

5’53”;6’09”;

9’119’31”;

9’37”;10’07”;

10’19”;11’41”

1’14”;8’19”9’18”;9’23” 0’54”

Tabel gerakan Antenulla pada Udang 15’ Kedua

No Perlakuan Flicking Wipping Withdraw Rotation Mendekati Pakan
1. Ablasi Mata 4’36”;5’38”5’42”;5’55”6’57”;7’50”8’45”;9’58”10’01’;10’09”;10’49”; 11’47”; 13’41” 0’16”;1’44”;3’11”; 3’19”;3’26”;5’14”;5’19”;5’21”;8’14”;8’34”;8’57”;9’31”;10’31”;10’42”;11’50”;12’50” 0’13”;0’27”;0’52”;1’07”;1’53”;2’22”;2’38”;2’48”;2’51”;3’02”;3’32”;3’52”;4’42”;4’52”;5’30”;5’40”;6’11”;6’34”;6’41”;6’59”;7’03”;7’21”;7’42”;7’52”;8’02”;8’24”;8’43”;9’04”;9’47”;9’53”;10’20”;10’36”;10’51”;11’22”;11’37”;12’10”;12’51”;13’52”;14’10” 1’33”;1’44”;3’11”;3’19”;3’26”;5’14”5’19”;5’21”;8’14”;8’34”;8’57”;9’31”;10’31”;10’42”;11’50”;12’50” 6’06”;12’17”;13’05”;13’08”
2. Ablasi Antenulla
3 Ablasi Total 5’23”;58’05”
4 Normal 0’46”;0’49”;0’52”;0’54”;0’59”;1’10”;1’12”;1’22”;1’25”;1’52”;1’53”;1’56”;2’00”2’08”;2’14’;2’41’;2’51”;3’03”;3’25”;4’46”;4’59”;5’23”;5’31”;5’43”;6’01”;6’07”;6’11”;6’19”;6’33”;6’41”;6’48”;6’57”;7’13”;7’29”;7’37”;7’42”;7’55”;7’58”;8’08”;8’19”;8’25”;8’36’;8’49”;8’51’;9’06”;9’13”;9’43”;10’31”;10’46”;10’86” 0’19”;5’08”;5’22”;8’20” 1’15”;2’22”;2’32”;6’19”;6’27”;6’33”;7’09”;7’19”;7’35”;7’47”;8’27”;8’36”;9’13”;9’27”;9’34”;9’48”;9’54”;10’18’;10’27”;11’25”;11’39’;11’46”;12’19”;12’35”;13’29” 4’25”;4’34”6’42”

4’03”;4’04”;4’05”;

4’07”

    Pembahasan

Chemoreseptor merupakan alat indera yang bereaksi terhadap zat-zat kimia, antara lain pakan. Chemoreseptor digunakan untuk mengenali stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, alat itu berupa rambut-rambut pada antenulla dengan nilai ambang yang sangat rendah. Chemoreseptor menurut Gordon (1982), berfungsi untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan, dan tempat hidupnya, mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin (mating), dan mendeteksi adanya musuh. Hanya dengan stimulus berupa gas berkonsentrasi rendah, chemoreseptor telah dapat mengenali (Ville et al., 1988).

udang 2

Gambar skematis udang dan bagian-bagiannya.

Menurut Ville et al. (1988), antenulla merupakan organ chemoreseptor yang sangat penting dalam mendeteksi kondisi lingkungan dan juga mendeteksi pakan pada lingkungan. Antenulla memiliki fungsi diantaranya dapat mengenali makanan, mengenali lawan jenisnya, menghindari dari serangan atau gangguan yang diakibatkan oleh organisme lain dan mempertahankan daerah peritorialnya. Menurut Radiopoetro (1977), bahwa chemoreseptor berfungsi untuk mendeteksi adanya musuh. Chemoreseptor dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti adanya stimulus kimia baik berupa molekul gas maupun cairan. Antenna pada udang berjumlah sepasang, ukurannya lebih panjang daripada antenulla. Antenulla berjumlah 2 pasang dan ukurannya lebih pendek daripada antenna.

Hasil percobaan yang dilakukan, pada perlakuan ablasi mata pada 20 menit pertama terjadi 3 kali gerakan flicking, dan 2 kali withdraw. Pada 20 menit kedua aktifitasnya terhenti karena udang mati. Pada ablasi antenulla dan ablasi total, tidak terjadi gerakan antennula karena antennula telah dipotong. Pada udang kontrol gerakan flicking, wipping, dan withdraw mendominasi gerak antenulla, serta melakukan beberapa kali gerakan mendekati pakan dalam 20 menit pertama dan kedua. Pada perlakuan ablasi total dan antenulla, tidak terjadi gerakan karena organ yang berfungsi sebagai reseptor telah hilang (Radiopoetro,1977).

Udang yang paling responsif terhadap pakan adalah udang dengan perlakuan ablasi mata. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Storer (1975), yang menyatakan bahwa antenulla pada udang galah (lobster) merupakan struktur sensor yang dapat bergerak untuk mencari perlindungan, makan, dan mencari pasangan serta menghindari predator. Oleh karena itu udang yang tidak diberi perlakuan ablasi antenulla akan berespon terhadap pakan, karena fungsi dari antenulla tersebut akan hilang jika dilakukan ablasi atau pemotongan salah satu organ tertentu. Fungsi dari antenulla menangkap stimulus kimia berupa pheromon dari hewan lawan jenis (Roger, 1978), juga untuk mengetahui posisi tubuh (Ache, 1975).

Mekanisme stimulus (pakan) sampai pada organ chemoreseptor udang yaitu makanan yang dimasukkan ke dalam akuarium akan berdifusi ke dalam air dalam bentuk ion-ion, kemudian ion-ion tersebut akan diterima oleh sel-sel chemoreseptor pada antenulla. Impuls dari antenulla akan ditransfer menuju otak oleh neuron afferen. Impuls ini oleh otak diproses menjadi tanggapan dan diteruskan ke organ reseptor melalui neuron efferen. Organ reseptor kemudian melakukan gerakan sesuai dengan informasi dari otak (Ville et al.,1988). Faktor yang mempengaruhi udang mendekati pakan antara lain berupa sensori berupa kimia, cahaya, osmotik, rangsangan mekanik dan adanya chemoatractant yang dikeluarkan oleh pelet/pakan. Chemostimulan yang dimasukkan pada lingkungan yang terkontrol untuk beberapa spesies Crustaceae, mampu memacu perilaku makan, dan dalam kondisi alami, udang menunjukkan respon rangsangan pada campuran kimia yang sangat sinergis (Harpaz,1990).

Hasil percobaan yang dilakukan menyatakan bahwa udang melakukan gerakan flicking, wipping, withdraw, dan mendekati pakan. Gerakan flicking, yaitu gerakan dimana udang melakukan gerakan pelucutan antenulla ke depan, dan gerakan tersebut berfungsi dalam mencari atau mendekati pakan. Gerakan wipping, yaitu gerakan pembersihan antenulla, dimana gerakan tersebut berfungsi dalam pembersihan setelah mendapatkan makanan atau setelah memakan pakan. Gerakan withdraw, yaitu gerakan dimana udang melakukan gerakan pelucutan ke belakang, dimana gerakan tersebut berfungsi untuk melawan atau menghindari musuh yang akan mendekatinya, sedangkan gerakan rotation, yaitu gerakan pemutaran antenulla yang berfungsi untuk mencari sensor kimia. Frekuensi flicking, dipengaruhi oleh keadaan fisiologis udang seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik, dan rangsangan mekanik (Gordon et al.,1982).

Aktivasi refleks Khemoreseptor arterial yang dihasilkan oleh inhalasi N2 atau injeksi intravenous sodium sianida berpengaruh terhadap neuron preganglion simpati adrenalin (ADR SPN) dalam mengatur sel kromatin melepaskan epineprin (EPI ADR SPNs) dan juga mengontrol neropineprin (NE ADR SPNs) karena aktivasi refleks khemoreseptor arterial ini menyebabkan ADR SPN lebih spesifik dalm mengeluarkan NE ADR SPNs daripada EPI ADR SPN (Hua Cao dan Morrison,2001).

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

  1. Chemoreseptor pada Macrobrachium sp. berfungsi untuk mengenal stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh atau mendeteksi dan mengetahui adanya makanan, dan tempat hidupnya, dan juga dipakai untuk mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin(malting), dan mendeteksi adanya musuh.

  2. Gerakan yang dapat dilakukan Macrobrachium sp. dalam mendeteksi adanya stimulus yaitu dengan melakukan gerakan flicking, wipping, withdraw, rotation, dan mendekati pakan.

  3. Macrobrachium sp. yang paling responsif terhadap pakan ialah yang antenullanya masih dapat digunakan dengan baik.

DAFTAR REFERENSI

Ache, B.W. 1975. Antenular Mediated Host Location by Symbiotic Crustaceans Mar Behaviour Physiology. The Mac Millan Company, New York.

Cao, W. H. And F. S. Morisson. 2001. Differential Chemoreseptor Reflex Responses of Adrenal Proganglionic Neurons. Am J Physiol Regul Integr. Comp Physiol. Vol. 281, issue 6, R1825-R1832.

Gordon, M.S., G.A. Bartholomeno, A.D. Grinele, C. Barker and N.W. Fred. 1982. Animal Physiology. Mac Millan Publishing Co Ltd, New York.

Harpaz, S. 1990. Variability in Feeding Behavior of Malaysian Prawn Macrobrachium Rosenbergii de Man during The Molt Cycle. E.J. Brill, London.

Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta.

Roger, W. 1978. Physiology of Animal. Prentice-Hall Inc, New Jersey.

Storer, T.I. 1975. General Zoology. Mc Graw Hill Book Company, New York.

Ville, C.A., W.F. Walker, dan R.D. Barners. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s