KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG PADA KATAK

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG PADA

KATAK (Rana sp.)

Oleh :

Luqman Wibowo

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel kontraksi otot gastroknemus pada Katak (Rana sp.)

Kelompok

Amplitudo (mm)

0 V

5 V

10 V

15 V

20 V

25 V

I 0 0 3 4,9 5,7 6,9
II 0 2,8 34,7 32,3 37,5 39,3
III 0 0,26 0,8 0,79 1,27 1,35
IV 0 5,1 10,2 13,6 16,3 14,5
V 0 0,2 7,3 9,5
VI 0 6,4 7,2 8,4 11,6 5

grafik

Grafik. Hubungan antara voltase dan amplitudo pada kontraksi otot gastroknemus


Pembahasan

Menurut Ville et al. (1988), otot adalah sistem biokontraktil dimana sel-sel atau bagian dari sel memanjang dan dikhususkan untuk menimbulkan tegangan pada sumbu yang memanjang. Otot merupakan jaringan umum pada tubuh kebanyakan binatang yang terbuat dari sel panjang / benang-benang khusus untuk kontraksi. Hal itu menyebabkan adanya pergerakan dari tubuh dan bagian kerja otot adalah voluntari (dibawah kontrol kesadaran) atau involuntari (tidak dibawah kontrol keinginan). Struktur mereka adalah halus (benang tanpa lurik) atau lurik (benang serat lintang). Ada 3 jenis jaringan otot yaitu involuntari lurik atau kardiak (jantung) dan voluntari lurik atau otot rangka badan (Hickman & Hickman, 1996).

Menurut Guyton (1993), kontraksi maksimal bila terdapat overlap maksimal antara filamen aktin makin besar kekuatan kontraksinya. Mekanisme kontraksi menurut Johnson et al. (1998), adalah sebagai berikut:

rangsangan kontraksi sarkolema retikulum-Ca troponin tropomiosin aktin ATP aktin melepaskan diri

ion Ca rendah tropomiosin bergerak ke tempat aktin filamen aktin

kontraksi.

Frandson (1992), menyatakan bahwa adanya kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena stimulasi berurutan yang berlangsung beberapa detik.

  2. Frekuensi hasil penjumlahan kontraksi.

  3. Menurunnya kapasitas bekerja.

  4. Relaksasi tidak dapat terjadi.

Berdasarkan hasil percobaan kontraksi otot gastroknemus pada tegangan 0 V, 5 V, 10 V, 15 V, 20 V, 25 V nilai amplitude pada kelompok 1 masing-masing sebesar 0 mm; 0 mm; 3 mm; 4,9 mm; 5,7 mm; 6,9mm. Nilai amplitudo pada kelompok 2 masing-masing 0mm; 2,8mm; 34,7mm; 32,3mm; 37,5mm; 39,3mm. Nilai amplitude pada kelompok 3 adalah 0mm; 0,26mm; 0,8mm; 0,79mm; 1,27mm; 1,35mm. Nilai amplitudo pada kelompok 4 masing-masing 0mm; 5,1mm; 10,2mm; 13,6mm; 16,3mm; 14,5mm. Nilai amplitudo pada kelompok 5 masing-masing 0mm; 0,2mm; 7,3mm; 9,5mm; ….mm; ……mm. Nilai amplitudo pada kelompok 6 masing-masing 0mm; 6,4mm; 7,2mm; 8,4mm; 11,6mm; 5mm. Hasil percobaan pada kelompok 1, 2 dan 3 yang dapat dilihat pada grafik menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai amplitudo setiap kenaikan voltase yang dilakukan. Berbeda pada kelompok 4 dan 6 dimana nilai amplitude mengalami kenaikan sampai pada tegangan 0 V hingga 20 V . Nilai amplitude mengalami penurunan setelah tegangan dinaikkan menjadi 25 V. Hasil pada kelompok 4 dan 6 telah sesuai dengan pernyataan Kimball (1996) bahwa karena kekuatan rangsangan ditingakatkan, banyaknya kontraksi meningkat sampai suatu maksimum. Rangsangan yang lebih tinggi lagi adalah tidak efektif. Hasil pada kelompok 1, 2 dan 3 belum sesuai dengan pernyataan Kimball tersebut.

Kontraksi otot didefinisikan sebagai pembongkaran aktif tenaga dalam otot. Penggunaan tenaga oleh otot pada beban eksternal disebut tekanan otot. Jika tekanan yang terbentuk oleh otot lebih besar dari penggunaan tenaga eksternal pada otot oleh beban, maka otot akan memendek. Jika penggunaan tenaga dengan beban lebih besar atau sama dengan tekanan otot, maka otot tidak memendek (Hill and Wyse, 1989).

Gerak refleks memperlihatkan hubungan antara banyak interneuron dalam sumsum tulang belakang yang selain berfungsi dalam menghubungkan impuls dari dan ke otak, juga berperan penting dalam memadukan peilaku refleks. Hal ini diperagakan pada hewan spinal yaitu hewan yang otaknya telah dirusak. Bila kaki katak dicelupkan ke dalam larutan asam maka kaki tersebut akan segera diangkat atau ditarik dari larutan. Respon ini melibatkan sejumlah otot yang bekerja secara terpadu merupakan suatu refleks murni dan memperagakan salah satu ciri utama dari suatu refleks yaitu ketaatan berulang. Seekor katak yang mempunyai otak akan melakukan respon tersebut beberapa kali, tetapi akhirnya akan berbuat lain. Sebagian besar bernilai penyelamatan diri (Yuwono, 2001).

Gordon (1997) menyatakan bahwa kontraksi otot melibatkan komponen zat kimia dalam otot tersebut. Zat kimia terpenting yang terdapat di dalam otot rangka yang berperan dalam distribusi dan dan pergerakan adalah ion kalsium. Sekurang-kurangnya ada empat protein yaitu aktin, M-protein, troponin, dan tropomiosin. Urutan kejadian dalam stimulus dan kontraksi pada otot meliputi stimulus, kontraksi dan relaksasi.

  1. Stimulus

    1. Depolarisasi sarkolema

    2. Depolarisasi T-Sistem

    3. Pelepasan ion kalsium dari SR

    4. Difusi ion kalsium

  2. Kontraksi

  1. Ion kalsium terikat ke troponin

  2. Kompleks troponin Ca++ remove bloking tropomyosin dari tempat aktin

  3. Head dari filament tebal (berisi kompleks myosin-ATP) membentuk cross bridgeske benang aktin.

  4. Hidrolisis ATP memicu perubahan konformasi pada head yang menyebabkan cross bridges bergeser.

  1. Relaksasi

  1. Ca++ ditarik dari filament tipis oleh SR

  2. Ca++ berdifusi dari filament tipis ke SR

  3. Ca++ dilepas dari kompleks troponin Ca++

  4. Tropomyosin kembali ke posisi bloking

  5. Cross bridges myosin aktin putus

  6. Kompleks myosin ATP dibentuk kembali dalam head dari filament tebal.

Menurut Gunawan (2001), telah diketahui bahwa panjang otot yang berkontraksi akan lebih pendek daripada panjang awalnya saat otot sedang rileks. Pemendekan ini rata-rata sekitar sepertiga panjang awal. Melalui mikrograf electron, pemendekan ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari pemendekan sarkomer. Sebenarnya pada saat pemendekan berlangsung, panjang filament tebal dan tipis tetap dan tidak berubah (dengan melihat tetapnya lebar lurik A dan jarak di Z sampai ujung daerah H tetangga) namun lurik I dan daerah H mengalami reduksi yang sama besarnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Otot adalah sistem biokontraktil dengan sel – sel atau bagian dari sel memanjang dan dikhususkan untuk menimbulkan tegangan.

  2. Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya respon dalam bentuk amplitude.

DAFTAR REFERENSI

Frandson, G. M. 1992. Anatomi dan Fisiologi Kedokteran. Buku kedokteran EGC, Jakarta.

Gordon, M. S., G. A. Bortholomew., A. D. Grinell., C. B. Jorgenscy and F. N. White.1997. Animal Physiology.: Principle and Adaptation, 4th Edition. MacMillan Publishing Co INC, New York.

Gunawan, A. M. S. 2001. Mekanisme dan Mekanika Pergerakan Otot. Integral Vol. 6 (2): 58-62.

Guyton, A. C. 1993. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran EGC, Jakarta.

Hickman, C. D. and C. P. Jr. Hickman. 1992. biology of Animal. The CV. Mosby Company, Saint Louis.

Hill, R. W. and G. A. Wyse. 1989. Animal Physiology Second ed. Harper and Collins Inc., New York.

Johnson, K. D., Rayle and H. L. A. Ledberg. 1984. Biology An Introduction. The Benyamin Comings Publishing Co Inc, London.

Kimball, J. W. 1996. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Ville, C. A., F. W. Warren, and R. D. Barnes. 1988. General Biology. W. B. Saunders Co., New York

Yuwono, E. 2001. Handbookair. URI: http : //edy.cybermuslim.net/handbookair.pdf

One thought on “KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG PADA KATAK

  1. Target Characteristics: These are characteristics that refer to the individual that receives and processes a message.

    According to Alexandra Juhasz, professor of
    media studies at California’s Pitzer College and something with the course facilitators, approximately 300
    students have signed up for the course, which falls within the Fem –
    Tech – Net rubric ‘Dialogues on Feminism and
    Technology. Keep your vision and ears open for just about any new
    site polices regarding this issue.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s