Kereta Pagi (1)

Ini adalah tentang pagi. Pagi yang indah dan jarang ku temui. Ya, jarang kutemui,… Karena dalam seminggu biasanya aku hanya berjumpa pagi paling banyak tiga-empat kali, tak tentu. Tetapi aku bersyukur, karena setiap aku berjumpa pagi, pagi akan selalu tampil indah mempesona walau tampil seadanya.

Suatu waktu, beberapa tahun yang lalu, aku ikut serta dalam suatu latihan kepemimpinan di daerah Bogor. Kami berangkat dari stasiun Purwokerto sekitar pukul 00.00 WIB. Tepat tengah malam, menggunakan kereta api ekonomi dengan tujuan stasiun Senen Jakarta Pusat. Kalian tahu kan kereta ekonomi, kereta yang telah bau karat, apek menyatu dengan bau keringat penumpang yang menguap mengisi ruang gerbong tua yang melaju santai dan akan banyak berhenti di beberapa stasiun kecil sepanjang perjalanan.

Kereta yang penuh pesona kesabaran rakyat jelata, kesabaran kaum yang mengalah karena sadar dengan harga tiket yang murah, mendahulukan kereta kelas satu untuk mendahuluinya. Disinilah kita akan melihat raut wajah kaum urban yang berjuang mencari peluang di kota-kota lain. Termasuk para penjaja makanan, pengamen, bahkan sampai penjaja tubuh akan kau temukan jika kau ‘beruntung’ menemukannya.

Cukup dengan harga tiket Rp. 28.000,00 kami berdesakan di kereta ekonomi tersebut. Kami berpencar karena yakin tak akan tersesat. Kami sendiri harus berjuang mencari tempat duduk kosong, dan seperti yang kalian tahu, jika tak dapatkan bangku kosong sepanjang gerbong, sepanjang kereta, dilantai gerbong-pun cukup untuk sebentar terlelap di alam mimpi.

Kurang lebih pukul 05.10 WIB kami telah sampai di stasiun Karawang. Melalui SMS salah satu teman-ku yang berada di gerbong paling belakang mengabarkan bahwa di gerbong belakang sudah kosong, bahkan kami bisa memilih masing-masing 1 bangku kosong yang biasanya di isi 2 orang. Tanpa basa-basi aku segera beranjak dari tempat dudukku di lantai gerbong dan mulai berjalan ke gerbong paling belakang.

Ternyata aku berjalan dari gerbong no.3 melewati 9 gerbong yang sama sesaknya. Praktis aku membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai di gerbong paling belakang. Sesampainya di gerbong paling belakang, aku melihat kawan-kawan ku sedang asik berfoto ria karena merasakan kelegaan dan keleluasaan disini. Kususul mereka yang berdiri di pintu gerbong terakhir, menghadap langsung rel. Saat itulah aku menyaksikan Sang Fajar merona menembus sedikit gumpalan awan di ufuk timur. Bukan matahari terbit, tetapi karena gumpalan awan di sana terlihat tebal, hanya bagian atasnya saja yang menipis, sehingga kami bisa melihatnya.

Mungkin kalian bisa mencoba melihat matahari pagi di atas rel kereta api. Indah dan tak biasa. Setelah aku mencoba beberapa kali menumpangi kereta api yang sama, dengan jadwal yang sama pula, ternyata tak tentu berada di tempat yang sama pada jam yang sama setiap hari-nya. Maklum, ekonomi, tak terduga, dan mengalah. Baru kali itu saja aku melihat matahari pagi di atas rel kereta api. Aku ingin melihatnya lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s