AIR MATA RETAK

Air Mata Retak

Penulis                     : Marhaeni Eva

Penerbit                  : PT GRASINDO

Tahun Terbit

Cetakan I                : 2009

ISBN                         : 9789790259409

Jumlah Halaman : 200 Halaman

“Seni itu soal penghayatan keindahan dan kepekaan, di tambah ketajaman intuisi.” (Hlm 13)

Itulah salah satu penggalan kalimat yang membuat ‘jreng’ buku ini diawal cerita. Akan sangat biasa ketika kita membacanya, namun jika kita mencoba memahami secara kontekstual, serta membaca alur cerita yang mengalir setelah itu, kita akan paham, bahwa hidup adalah seni. Seperti bentuk apresiasi seni, hidup membutuhkan penghayatan dan kepekaan. Bak seorang penari yang menari dalam alunan musik atau seorang pelukis yang menumpahkan imaji serta emosinya dalam tumpahan warna di atas kanvas.

Nawangsasi, tokoh yang mengangkat problem budaya (sistem) patrialkal. Memberikan sebuah pengajaran multikompleks. Itulah mengapa saya katakan bahwa hidup adalah seni. Perempuan sekaligus seniman, manusia biasa yang terjerat sifat manusiawi-nya dan bukan tanpa cacat, bukan tanpa sejarah. Ia sanggup menanggung konsekuensi atas pilihan hidupnya. Sebagai perempuan dan tetap seorang perempuan, ia mengakhiri cerita dengan khas perempuan dan menegaskan bahwa perempuan punya ‘Rahasia’ yang bahkan seseorang yang menisbahkan diri menjadi tonggak untuknya (Djati) merasakan dan sadar, bahwa ia bahkan tak dapat menjadi seseorang yang membawa nawang keluar dari jurang kelam masa lalunya.

Melalui karya keduanya-nya, selain menggugat budaya patriarki, Marhaeni Eva membawakan hal yang nyentrik bagi kita. Adalah ketika pertalian kasih dan cinta tokoh Nawang dan Djati yang terwujud menjadi sebuah ikatan suami istri tanpa upacara, ijab qabul, serta ritual dan simbol perkawinan institusi agama. Disini Marhaeni Eva ingin menunjukkan bahwa sebuah aspresiasi dari rasa tak perlu terkotakkan dalam sebuah institusi agama, dan menolak simbol-simbol. Namun, akhirnya saya sendiri sadar, bahwa bukankah dengan melakukan hal itu, Nawang membiarkan pintu hatinya terbuka dan rawan terjembab kembali dalam lubang yang sama? Walau diakhir cerita ia bertahan dan mengakhiri hidupnya disamping Djati.

Selamat membaca kepada kaum perempuan, semoga semangat anda akan kembali bergelora setelah membaca buku ini. Dan kaum laki-laki, bersiaplah, bahwa mereka (Perempuan) tetaplah perempuan, mahluk otonom walau dicipta dari tulang rusuk laki-laki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s